Sukuna Backstory Explained How an Unwanted Child Became a Villain

Ryomen Sukuna. Nama itu saja sudah cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri, sebuah entitas yang selama ribuan tahun menjadi teror di dunia Jujutsu Kaisen. Namun, di balik moniker "Raja Kutukan" dan kekejamannya yang tak tertandingi, tersembunyi sebuah kisah tragis tentang penolakan, pilihan sulit, dan mungkin, sedikit penyesalan. Ini bukan hanya cerita tentang seorang penjahat, melainkan studi karakter yang mendalam tentang bagaimana seorang anak yang tidak diinginkan dibentuk oleh dunia di sekitarnya untuk menjadi monster yang ditakuti.
Siapkah Anda menyelami lebih dalam ke asal-usul, motivasi, dan evolusi karakter Sukuna yang kompleks? Mari kita bedah lapisan demi lapisan bagaimana seorang anak biasa bisa tumbuh menjadi kutukan terkuat sepanjang masa.

Menguak Asal-usul Tragis Sang Raja Kutukan

Kisah Sukuna dimulai jauh sebelum kita mengenalnya sebagai arwah kutukan paling ditakuti. Petunjuk-petunjuk dalam manga Jujutsu Kaisen, terutama di chapter #237, menggambarkannya sebagai "anak yang menyeramkan" – istilah Jepang aslinya bahkan bisa diartikan sebagai "anak yang tidak diinginkan". Konsep penolakan ini menjadi pondasi bagi perjalanan kelamnya. Terungkap di chapter #257, bahwa untuk bertahan hidup, Sukuna memakan saudara kembarnya sendiri saat masih di dalam rahim, sebuah tindakan primal yang menjelaskan sebagian dari bentuk fisiknya yang tidak biasa dengan empat lengan dan dua mulut.
Ironisnya, komentar Sukuna tentang ibunya yang mungkin kelaparan mengisyaratkan sejarah pengabaian yang mendalam. Sebuah awal kehidupan yang ditandai oleh kesulitan ekstrem dan stigma membuat kita bertanya-tanya, apakah ada takdir lain bagi anak yang lahir dengan beban seperti itu? Untuk menggali lebih jauh dan memahami , mari kita telusuri setiap petunjuk dalam ceritanya.

Simbolisme dan Kekuatan: Jejak Mitologi dalam Kutukan Sukuna

Di luar cerita Jujutsu Kaisen, karakter Ryomen Sukuna memiliki akar yang dalam dalam mitologi dan cerita rakyat Jepang. Inspirasinya bisa dilacak hingga Nihon Shoki (Babad Jepang), di mana entitas yang mirip Sukuna digambarkan memiliki dua wajah dan banyak lengan, seringkali memberontak terhadap penguasa tiran dan meninggalkan jejak kematian. Nama "Ryomen" sendiri secara harfiah berarti "berwajah dua" atau "bersisi ganda", sebuah moniker yang sangat pas untuk sosok dengan ambiguitas moral seperti dirinya.
Namun, tidak semua catatan sejarah menggambarkan Sukuna sebagai tokoh jahat; beberapa bahkan melukiskannya sebagai sosok baik yang menyebarkan ajaran Buddha dan membawa kemakmuran. Koneksi dengan Buddhisme ini juga meresap ke dalam seri Jujutsu Kaisen, terutama melalui teknik dan Domain Expansion-nya. Sukuna menggunakan Mudra Buddha, khususnya tanda telapak tangan Enma, untuk mengaktifkan Malevolent Shrine-nya. Kuil di dalam domainnya bahkan menyerupai kuil Tamamushi di Horyuji, sebuah situs suci penting bagi agama Buddha di Jepang. Untuk memahami lebih jauh dan menyelami , kami memiliki panduan lengkap yang akan menjelaskan setiap detailnya.

Bukan Sekadar Kekuatan Mentah: Filosofi di Balik Teknik Sukuna

Teknik kutukan Sukuna jauh melampaui kehancuran belaka; mereka adalah cerminan dari pemahaman mendalamnya tentang energi kutukan, yang dipengaruhi oleh Mudra Buddha untuk memfokuskan energi. Ini bukan hanya tentang kekuatan mentah, melainkan juga tentang presisi, pemahaman, dan warisan spiritual yang secara ironis digunakan untuk tujuan yang menghancurkan.

Dari Penolakan Sosial Menuju Kejahatan Mutlak

Motivasi Sukuna untuk menjadi jahat berakar pada penolakan masyarakat yang ia alami sejak lahir. Karena dilahirkan cacat dan dianggap sebagai monster, ia pada akhirnya menjadi persis seperti apa yang orang takutkan. Ini adalah lingkaran setan yang kejam: masyarakat menolaknya, lalu ia membalas dengan kebencian dan kekejaman yang tak terhingga. Di chapter #271, kita mendapat pencerahan bahwa Sukuna sebetulnya punya pilihan lain dalam hidup. Ia bisa saja memilih jalan cinta, seperti yang ditawarkan oleh Yorozu, atau bahkan memberikan pengasuhan layaknya orang tua kepada Uraume, sesuatu yang tidak pernah ia terima sendiri.
Namun, Sukuna menolak semua itu. Ia takut "termakan oleh kutukannya sendiri," sebuah keengganan mendalam terhadap cinta dan ikatan emosional. Baginya, cinta dan kelemahan adalah satu kesatuan yang tidak boleh ia izinkan memasuki dunianya. Pelajari lebih lanjut dan telusuri dalam ulasan mendalam kami.

Menyesal di Akhir? Jejak Kemanusiaan dalam Diri Sukuna

Di penghujung ceritanya, ada secercah harapan atau setidaknya keraguan dalam diri Sukuna. Ia menyatakan penyesalan, mengisyaratkan bahwa jika diberi kesempatan hidup lagi, ia mungkin akan mengubah jalannya. Ini adalah pengakuan mengejutkan dari Raja Kutukan yang terkenal tanpa emosi, sebuah tanda bahwa mungkin, jauh di lubuk hatinya, ada sisa-sisa kemanusiaan yang tersembunyi. Bahkan, salah satu jarinya yang tersisa kini disebut-sebut sebagai jimat pelindung, sebuah transformasi yang mengejutkan dari relik teror menjadi simbol perlindungan.
Pengungkapan ini menambah lapisan kompleksitas pada karakter Sukuna, menunjukkan bahwa ia mungkin bukan sekadar entitas jahat murni, tetapi juga korban dari keadaannya sendiri. Untuk memahami serta menyelami , ikuti panduan komprehensif kami.
Dari seorang anak yang tidak diinginkan hingga Raja Kutukan yang ditakuti, kisah Sukuna adalah perjalanan yang suram, penuh dengan penolakan, kekerasan, dan pilihan yang berat. Memahami latar belakangnya tidak membenarkan tindakannya, tetapi memberi kita wawasan yang lebih dalam tentang salah satu penjahat paling menarik dalam anime modern. Kisahnya berfungsi sebagai pengingat pahit tentang dampak yang dapat ditimbulkan oleh penolakan dan pengabaian, bahkan pada entitas yang paling kuat sekalipun.